Selasa, Juni 07, 2011


Jakarta— Pada hari Jum'at s.d Minggu (3-5 Juni 2011) saya dan keluarga sudah sering wara wiri salah satu Rumah Sakit (RS) Negeri Jakarta untuk menjenguk dan mengurus administrasi berkaitan sakit parahnya saudara yg sudah akut/kritis dan menjalani perawatan di RS. Sebagai dosen fotografi dan memang orang yang narsis dengan segala keingin tahuannya terhadap fotografi jurnalistik saya berfoto ria di RS tersebut. Mulai dari menjejakkan langkah kaki di Gerbang utama, bangunan pendukung hingga suasana kantin saat saya makan malam.

Namun kejadian apes dan konyol terjadi manakala saya 'kedapatan' memotret Sodara saya yg masih di ICU pada hari minggu/5 Juni 2011 -kurang lebih pukul 11.30 WIB- dan diprotes oleh keluarga pihak lain yg berkeberatan dalam pengambilan gambar yg secara tidak sengaja ikut terambil keadaannya 'sedikit'. Setelah meminta maaf dan menunjukkan itikad baik saya dengan menyerahkan KTP saya untuk difotokopi, sekaligus difoto secara sadar dan 'sedikit' memaksa maka saya tetap cool dengan keadaan itu. Pihak RS dengan diwakili Satpamnya juga sudah memberikan penjelasan tentang larangan mengambil foto di area RS dengan dalih saya tidak memiliki izin resmi.

"Seharusnya tidak perlu ada pelarangan seperti itu karena RS merupakan lahan terbuka untuk umum dan siapa saja berhak mengambil gambar," kata Sekretaris Komisi III DPRD Jakarta, yang tidak bisa saya sebutkan namanya disini.

Salah seorang petugas Keamanan melarang saya mengambil gambar di RS ini pada hari Minggu/5 Juni 2011 dimana setelah saya bersitegang dengan Keluarga yg sebagian dirinya terambil saat saya mencoba mengambil gambar sodara saya. Padahal jika dirunut, saya sudah leluasa bawa kamera dan tdk ada larangan pada hari-hari sebelumnya saat sodara saya belum dipindahkan di ruang ICU.

Dia mengatakan, pewarta foto/fotografer saja dilarang mengambil gambar untuk kepentingan publik terkait situasi RS, padahal jika masyarakat umum hanya foto utk kepentingan dokumentasi dan tidak menyalahgunakan foto RS berikut fasilitas yang ada, seharusnya disambut dengan baik. Hitung-hitung marketing gratis..(ambil sisi positifnya ^_^)

Bukankah jika ada pihak yang membantu menyosialisasikan situasi kegiatan profesional dokter dan tenaga medis di RS sebaiknya jangan dipersulit, karena hal tersebut sebenarnya menguntungkan RS, iya kan?!.

Saya justru mempertanyakan alasan lain petugas keamanan yang khawatir atas pengambilan gambar foto keadaan RS tersebut. Bukankah jika dilihat pihak RS di seluruh Indonesia bahkan dunia dalam pembuatan brosur/media pendukung promosi selalu ada pihak pasien yang sedang ditangani dan itu -menurut saya-, belum tentu dapat ijin dari pihak yang bersangkutan.

Asumsi saya, Kalau memang iklim di dalam RS baik-baik saja, tidak perlu kekhawatiran itu terjadi, apalagi dengan melakukan intimidasi. Bayangkan saja, saya harus menghadapi seluruh keluarga yang protes dan kata-kata kasar belum lagi para keamanan yang belum apik dalam menengahi kasus semacam ini, yang menandakan petugas keamanan RS terkesan tidak siap dan baru pertama kali dalam menangani kasus seperti ini.

Saya mengimbau kepada pihak pengelola (jajaran direksi) melakukan pembinaan semua stafnya (terutama HUMAS dan Keamanan) mengenai peraturan pelayanan publik di RS, apalagi terkait dengan LARANGAN FOTO di area RS. Area mana yang boleh, mana yang dilarang. Mana yang perlu ijin tertulis dan mana perlu dengan ijin tertulis.

Karena yang saya dengar kasus ini bukan yang pertama melainkan telah ada beberapa pewarta/hobi fotografi sebelumnya yang juga menerima perlakuan tidak bersahabat tersebut.

Saya membuat keputusan menjepret objek dimanapun, kapanpun dan siapapun selama belum ada larangan tertulis atau ekspresi jengah thd objek yang saya foto. Jika kemudian datang petugas keamanan dan mempermasalahkan dengan alasan tidak ada izin resmi untuk mengambil gambar maka saya rasa letak permasalahannya ada di langkah PREVENTIF pihak RS yang tidak tanggap dalam regulasi/aturan yang mengatur tentang LARANGAN dalam berfoto di RS.

Saya mengatakan demikian, setelah dibicarakan di antara kedua belah pihak, diketahui bahwa pihak RS memiliki aturan sendiri mengenai pengambilan gambar yang harus melalui izin resmi ke petugas setempat (entah Duty Manager/Dokter yang bertugas).

Jika mau mencari jalan tengah, seharusnya pihak RS membuat aturan LARANGAN BERFOTO di RS tersebut atau jika mau mulai menggunakan Undang-Undang Pers. Wallahu a'lam.

NB: Anda boleh NARSIS, namun jangan kebablasan seperti saya ya...hehehe :D
tapi anda juga boleh berkilah dan bahkan jika perlu melawan manakala regulasi/peraturan tentang LARANGAN BERFOTO dimanapun anda berada ternyata belum ada. Salam jepret! ^_^
Reaksi:

0 komentar: